Wahai sang Merak yang memikat
Jangan biarkan gemuruh darah ini jadi meluruh
Dan tulang-tulang gelora asmara menjadi rapuh tersapuh
Sedangkan olah pikiran sudah tak sejalan dengan perasaan
Bulir-bulir dikulit ari ini semakin menyempitkan aliran nadi
Terasa setiap jengkal emosi melesakan hati
Bara penyesalan menghina dikasat mata
Namun.....setampuk asa masih tergenggam oleh ragha
Wahai sang Merak yang anggun dan menggoda
Biarkan Landak ini berkaca apa adanya
Jangan kau tebar senyum di pelataran altar harapan
Sementara kau tumpahkan sinis kehinaan akan kemenangan
Dimana sang Landak menjadi pecundang dimata Raja Hutan
Setelah seluruh duri kau cabuti sebagai ganti harga diri
Menelanjangi syamsara yang selalu terjaga dan terpuja
Tak ada lagi yang tersisa .....hanya air mata
Oh Sang Pengadil hati yang selalu bersih dan kasih
Bawalah jiwa Landak terbang kejumantara raya
Menemui sang Pengapit sejati yang hakiki
Walaupun tak ada rasa rindu dan cemburu
Namun sebongkah emas ketenangan selalu dikalungkan
Membayang sebuah perjalanan kebahagian
Karena hidup bukan hanya cinta dan nilai rasa
Catatan kecil akan sebuah permainan
Jakarta, 4 July 2001
Senin, 27 Juli 2009
Jumat, 24 Juli 2009
Jembatan Layang Ahmad Yani
Lorong jembatan layang Ahmad Yani
Denyut rasa manusiawi mati tenggelam dimakan zaman
Gerombolan kuli jalanan berlalu lalang tanpa tujuan dan pekerjaan
Membawa pacul dan pengki yang teronggok sedari pagi
Berharap ada tuan yang memberi pekerjaan serabutan
Sekedar menyambung hidup untuk anak istri yang setia menanti
Memperbaiki nasib yang membelenggu kemiskinan turunan
Entah kapan sang harapan merubah keadaan
Sementara yang lainnya asyik tertidur mendengkur
Setelah seharian melamun tak ada pekerjaan yang dikerjakan
Yang ada hanya main gaplehan tuk usir rasa kejenuhan dan kekesalan
Mengobati rayuan kejahatan yang disodorkan para badut kantoran
Sementara itu.....anak jalanan berlari-lari mengais mimpi
Mengikuti bayangan yang tak mungkin bisa dikalahkan
Canda ceria bak pengusir rasa dahaga kasih sayang dari orang tua
Tak sadar akan hari depan yang dihadapi semakin suram
Dan kejahatan malam selalu mengintai dari belakang
Nyawa murah dan rendah hanya ditukar uang recehan bisa tergadaikan
Hari ini, besok dan yang akan datang adalah sama
Pengamen jalanan bernyanyi harapan sunyi tentang asa nol belaka
Sebagai status seniman yang ditertawakan kalangan artis kawakan
Berbekal gitar atau bahkan tepukan tangan yang berperasaan
Kadang kejahatan menggoda untuk bersama dengan mereka
Karena dermawan membiarkan mereka meradang dijalanan
Pengemis renta tengadah tangan yang lama kesemutan
Memelas rasa iba bagi mereka yang masih punya nyawa dan derma
Walau acap kali sumpah serapah terlontar dari orang yang serakah
Tak memberi nilai setali yang ada caci maki
Dianggap pemalas yang tak mau bekerja keras
Preman pengatur lalu lintas beringas meminta jatah pengaturan
Pendapatannya segembolan karena ditopang kesangaran
Hasilnya entah untuk apa dan untuk siapa
Tak Jelas siapa yang meminta dan jatah yang meminta
Atau hanya sekedar menjalankan karena terdesak akan keserakahan
Renungan perjalanan Pulang
Dari Pulomas ~ BSD
Jakarta May 11, 2006
Denyut rasa manusiawi mati tenggelam dimakan zaman
Gerombolan kuli jalanan berlalu lalang tanpa tujuan dan pekerjaan
Membawa pacul dan pengki yang teronggok sedari pagi
Berharap ada tuan yang memberi pekerjaan serabutan
Sekedar menyambung hidup untuk anak istri yang setia menanti
Memperbaiki nasib yang membelenggu kemiskinan turunan
Entah kapan sang harapan merubah keadaan
Sementara yang lainnya asyik tertidur mendengkur
Setelah seharian melamun tak ada pekerjaan yang dikerjakan
Yang ada hanya main gaplehan tuk usir rasa kejenuhan dan kekesalan
Mengobati rayuan kejahatan yang disodorkan para badut kantoran
Sementara itu.....anak jalanan berlari-lari mengais mimpi
Mengikuti bayangan yang tak mungkin bisa dikalahkan
Canda ceria bak pengusir rasa dahaga kasih sayang dari orang tua
Tak sadar akan hari depan yang dihadapi semakin suram
Dan kejahatan malam selalu mengintai dari belakang
Nyawa murah dan rendah hanya ditukar uang recehan bisa tergadaikan
Hari ini, besok dan yang akan datang adalah sama
Pengamen jalanan bernyanyi harapan sunyi tentang asa nol belaka
Sebagai status seniman yang ditertawakan kalangan artis kawakan
Berbekal gitar atau bahkan tepukan tangan yang berperasaan
Kadang kejahatan menggoda untuk bersama dengan mereka
Karena dermawan membiarkan mereka meradang dijalanan
Pengemis renta tengadah tangan yang lama kesemutan
Memelas rasa iba bagi mereka yang masih punya nyawa dan derma
Walau acap kali sumpah serapah terlontar dari orang yang serakah
Tak memberi nilai setali yang ada caci maki
Dianggap pemalas yang tak mau bekerja keras
Preman pengatur lalu lintas beringas meminta jatah pengaturan
Pendapatannya segembolan karena ditopang kesangaran
Hasilnya entah untuk apa dan untuk siapa
Tak Jelas siapa yang meminta dan jatah yang meminta
Atau hanya sekedar menjalankan karena terdesak akan keserakahan
Renungan perjalanan Pulang
Dari Pulomas ~ BSD
Jakarta May 11, 2006
Label:
Puisi
Rabu, 22 Juli 2009
Balada Merak dan Landak (1)
Si Landak yang tersisih dari lingkaran kasih
Terbuang diantara nilai-nilai rasa sayang
Terabaikan dari cengkeraman kelembutan
Tergilas dan terhempas dari sisi kehangatan
Mencoba mengais keretakan dan kehancuran
Merepih dari kaca pecah ‘tuk meredam amarah
Satu kepincangan yang menjadi beban kala berjalan
Saat ini…..si Landak butuh nilai sebuah sentuhan
Walau sekejap hanya selembar bulu indah Merak dari sayap
Namun itu mampu membangkitkan duri dari tubuh yang rapuh
Menggelora merah darah yang talah lama terkesima
Merajut benang harapan kusut yang telah lama tersaput
Oleh gemulai dan kelincahan akan sebuah keyakinan
Yang menari dari pelupuk mata sedasa hasta
Duhai…sang pemilik sayap yang indah
Sebarkan setetes keringat wangi Merak pada Landak
Berikan permainan kesayupan hitam bola mata
Titipkan simpul senyum di lubuk terdalam
Genggamkan lentik jari yang halus terurus
Rebahkan sebuah getar perasaan pada jiwa yang terlena
Hidupkan api cemburuan yang telah mati kesuri
Agar si Landak bisa yakin akan kepikatan dibalik racun penipuan
Jakarta, 29 Juni 2001
Sebuah catatan kecil dari perjalanan
Anak Desa dalam mengarungi bhuwana
Diambang Samudara Asa
Terbuang diantara nilai-nilai rasa sayang
Terabaikan dari cengkeraman kelembutan
Tergilas dan terhempas dari sisi kehangatan
Mencoba mengais keretakan dan kehancuran
Merepih dari kaca pecah ‘tuk meredam amarah
Satu kepincangan yang menjadi beban kala berjalan
Saat ini…..si Landak butuh nilai sebuah sentuhan
Walau sekejap hanya selembar bulu indah Merak dari sayap
Namun itu mampu membangkitkan duri dari tubuh yang rapuh
Menggelora merah darah yang talah lama terkesima
Merajut benang harapan kusut yang telah lama tersaput
Oleh gemulai dan kelincahan akan sebuah keyakinan
Yang menari dari pelupuk mata sedasa hasta
Duhai…sang pemilik sayap yang indah
Sebarkan setetes keringat wangi Merak pada Landak
Berikan permainan kesayupan hitam bola mata
Titipkan simpul senyum di lubuk terdalam
Genggamkan lentik jari yang halus terurus
Rebahkan sebuah getar perasaan pada jiwa yang terlena
Hidupkan api cemburuan yang telah mati kesuri
Agar si Landak bisa yakin akan kepikatan dibalik racun penipuan
Jakarta, 29 Juni 2001
Sebuah catatan kecil dari perjalanan
Anak Desa dalam mengarungi bhuwana
Diambang Samudara Asa
Label:
Puisi
Eundeuk-Eundeukan
Eundeuk-eundeukan lagoni
Meunang peucang sahiji
Leupas deui ku Nini
Beunang deui ku Aki
Tembang diluhur biasana dikawihkeun lamun keur ulinan khususnya keur naek tatangkalan. Baheula diunggal hareupeun imah pasti saeutik eutikna aya dua tangkal bubuahan, boh jambu atawa rambutan atawa buah. Tangkal buah biasana loba dahanna jeung gararede kulantaran melakna tina siki. Barudak sok silih ngendagkeun dahanna bari ngawih eta tembang tiluhur. Atawa lamun ulin keur ngasruk terus mangihan aya tangkal anu rugrug terus barudak sok silih ngendagkeun eta tangkal teh supaya bisa ayun-ayunan bari nembangkeun kawih eundeuk-eundeukan
Jakarta 21 Juli 2009Seseorang yang rindu akan mainan tradisional
Meunang peucang sahiji
Leupas deui ku Nini
Beunang deui ku Aki
Tembang diluhur biasana dikawihkeun lamun keur ulinan khususnya keur naek tatangkalan. Baheula diunggal hareupeun imah pasti saeutik eutikna aya dua tangkal bubuahan, boh jambu atawa rambutan atawa buah. Tangkal buah biasana loba dahanna jeung gararede kulantaran melakna tina siki. Barudak sok silih ngendagkeun dahanna bari ngawih eta tembang tiluhur. Atawa lamun ulin keur ngasruk terus mangihan aya tangkal anu rugrug terus barudak sok silih ngendagkeun eta tangkal teh supaya bisa ayun-ayunan bari nembangkeun kawih eundeuk-eundeukan
Jakarta 21 Juli 2009Seseorang yang rindu akan mainan tradisional
Label:
lagu ulinan barudak
Selasa, 21 Juli 2009
Cacaburange
Cacaburange burange tali gobang
Gobang pancarame pancarame
Anak gajah dipayungan
Jing gojing lewe lewe
Jing gojing lewe lewe
Kawih tiluhur biasana ditembangkeun babarengan jeung hiji kaulinan nyaeta nebak hiji barang (biasana batu leutik) aya dinu saha. Di ulinkeun paling sauetik ku tilu budak (leuwih loba leuwih rame). Carana salah sahiji budak jadi “ucing” atawa obyek nu kudu nebak, jeung nu lianna dipilih salah sahiji jadi pamimpin pikeun nembangkeun kawih tiluhur. Si “ucing” diuk nonggongan, terus nu lianna diuk ngurilingan si “ucing” bari nembrakeun leungeun diluhur tonggong si “ucing”. Si pamimpin tadi nembangkeun kawih tiluhur bari nyeukeul batu leutik terus eta batu teh diteken tekenkeun kana leungen nu namprak tadi bari muter ka masing masing barudak, supaya si ‘ucing” ngarasakeun yen batu teh dipindah pindahkeun di hiji budak ka budak nu lainna. Lamun geus arek rengse nembang, kabeh budak ngeupeulkeun leungeun bari ngiluan nembang tungtung kawih nayeta jing gojing lewe lewe. Si “ucing” hudang bari lulungu kulantara sinah peureum saacanna. Manehna kudu nebak dimana batu leutik tadi dicekel. Lamun salah manehna jadi “ucing deui, tapi lamun tebakanna bener, budak anu nyeukel batu tadi gentian jadi “ucing”. Supaya rame biasana barudak ngalelewe nu jadi “ucing” supaya si ucing bingung dimana batu tadi ditempatkeun ka salah sahiji budak.
Jakarta 21 Juli 2009
Sok inget zaman bahuela keur leutik pinuh kaulinan
Gobang pancarame pancarame
Anak gajah dipayungan
Jing gojing lewe lewe
Jing gojing lewe lewe
Kawih tiluhur biasana ditembangkeun babarengan jeung hiji kaulinan nyaeta nebak hiji barang (biasana batu leutik) aya dinu saha. Di ulinkeun paling sauetik ku tilu budak (leuwih loba leuwih rame). Carana salah sahiji budak jadi “ucing” atawa obyek nu kudu nebak, jeung nu lianna dipilih salah sahiji jadi pamimpin pikeun nembangkeun kawih tiluhur. Si “ucing” diuk nonggongan, terus nu lianna diuk ngurilingan si “ucing” bari nembrakeun leungeun diluhur tonggong si “ucing”. Si pamimpin tadi nembangkeun kawih tiluhur bari nyeukeul batu leutik terus eta batu teh diteken tekenkeun kana leungen nu namprak tadi bari muter ka masing masing barudak, supaya si ‘ucing” ngarasakeun yen batu teh dipindah pindahkeun di hiji budak ka budak nu lainna. Lamun geus arek rengse nembang, kabeh budak ngeupeulkeun leungeun bari ngiluan nembang tungtung kawih nayeta jing gojing lewe lewe. Si “ucing” hudang bari lulungu kulantara sinah peureum saacanna. Manehna kudu nebak dimana batu leutik tadi dicekel. Lamun salah manehna jadi “ucing deui, tapi lamun tebakanna bener, budak anu nyeukel batu tadi gentian jadi “ucing”. Supaya rame biasana barudak ngalelewe nu jadi “ucing” supaya si ucing bingung dimana batu tadi ditempatkeun ka salah sahiji budak.
Jakarta 21 Juli 2009
Sok inget zaman bahuela keur leutik pinuh kaulinan
Label:
lagu ulinan barudak
Jakarta Menangis Lagi
Belum hilang dalam ingatan bayang
Belum pulih perih dihati terobati
Belum sempurna luka menganga dikepala
Belum ada waktu sewindu berlalu
Kini…..
Bom di hotel JW Marriot terdengar lagi
Ketika sang mentari baru menyapa dipagi hari
Sinarnya kuning kemilau memberi arti harmoni
Dan embun pagi masih setia menemani
Orang akan membuka lembaran kerja dalam berkarya
Tapi tiba-tiba .......
JW Marriot membara amarah dan memerah
Kemegahannya seketika bergeletar
Keangkuhannya lumpuh diam terkapar
Keindahannya limbung terkepung asap mengepul
Seketika………
Orang berlari mencari perlindungan yang hakiki
Menjerit menahan rasa sakit yang melangit
Darah merah tersimbah dimana mana menyentuh tanah
Agar selamat dari ancaman malaikat penjemput maut
Serpihan daging tercecer berkeping-keping
Bunyi sirine ambulan tak henti bersahut-sahutan
Mengantar asa nyawa yang sudah pasrah berserah
Oh Jakartaku
Setelah reda dalam beberapa waktu berlalu
Kini Jakarta didera lagi prahara dan bencana
Harga nyawa manusia sangat rendah dan murah
Terbeli dengan harga dhuniawi yang merasuki insani
Nilai rasa dan norma hanya tersaji di ilusi prasasti
Karena sang penghuni tak lagi mengerti dan memahami
Aku sedih dan lirih merintih
Wahai sahabatku
Semoga kejadian ini berhenti dan tak terulang lagi
Jangan pernah ada lagi dendam yang terus membayang
Jangan pernah saling menyalahkan karena keadaan
Mari bersatu dalam dalam kebhinekaan dan rasa cinta
Agar Indonesia Raya Berjaya
Jakarta 17 Juli 2009
Terhenyak mendengar bom meladak lagi di hotel JW MarriotSetelah tahun 2003 terjadi ledakan di tempat yang sama
Belum pulih perih dihati terobati
Belum sempurna luka menganga dikepala
Belum ada waktu sewindu berlalu
Kini…..
Bom di hotel JW Marriot terdengar lagi
Ketika sang mentari baru menyapa dipagi hari
Sinarnya kuning kemilau memberi arti harmoni
Dan embun pagi masih setia menemani
Orang akan membuka lembaran kerja dalam berkarya
Tapi tiba-tiba .......
JW Marriot membara amarah dan memerah
Kemegahannya seketika bergeletar
Keangkuhannya lumpuh diam terkapar
Keindahannya limbung terkepung asap mengepul
Seketika………
Orang berlari mencari perlindungan yang hakiki
Menjerit menahan rasa sakit yang melangit
Darah merah tersimbah dimana mana menyentuh tanah
Agar selamat dari ancaman malaikat penjemput maut
Serpihan daging tercecer berkeping-keping
Bunyi sirine ambulan tak henti bersahut-sahutan
Mengantar asa nyawa yang sudah pasrah berserah
Oh Jakartaku
Setelah reda dalam beberapa waktu berlalu
Kini Jakarta didera lagi prahara dan bencana
Harga nyawa manusia sangat rendah dan murah
Terbeli dengan harga dhuniawi yang merasuki insani
Nilai rasa dan norma hanya tersaji di ilusi prasasti
Karena sang penghuni tak lagi mengerti dan memahami
Aku sedih dan lirih merintih
Wahai sahabatku
Semoga kejadian ini berhenti dan tak terulang lagi
Jangan pernah ada lagi dendam yang terus membayang
Jangan pernah saling menyalahkan karena keadaan
Mari bersatu dalam dalam kebhinekaan dan rasa cinta
Agar Indonesia Raya Berjaya
Jakarta 17 Juli 2009
Terhenyak mendengar bom meladak lagi di hotel JW MarriotSetelah tahun 2003 terjadi ledakan di tempat yang sama
Label:
Puisi
Kamis, 16 Juli 2009
Cingciripit
Cing ciripit
Tulang bajing kacapit
Kacapit ku bulu pare
Bulu pare memencosna
Kawih / tembang tilihur biasana diulinkeun lamun rek ngundi salah sahiji diantara barudak jadi “ucing” (sebutan jang budak anu jadi obyek kaulinan). Carana nyaeta dipilih salah sahiji budak jadi pamimpin pikeun mimpin nembangkeun kawih tadi. Si Pamimpin namprakeun leungeunna terus barudak lianna masing-masing nempelkeun tulunjuk kana talapak leungeun pamimpin tadi. Bari ngawihkeun tembang tilihur kabeh barudak kudu waspada kulantaran si pamimpin bisa ngatur eta kawih teh cepet atawa lamabat. Pas tungtung tembang tadi kabeh barudak kudu cepet-cepet narik tulujuk supaya teu kacapit kuleungeun pamimpin. Budak anu lambat narik tulunjukna terus kacapit ku paminpin, budak eta jadi “ucing”.
Jakarta 16 Juli 2009Inget kaulinan keur budak baheula dilembur.
Tulang bajing kacapit
Kacapit ku bulu pare
Bulu pare memencosna
Kawih / tembang tilihur biasana diulinkeun lamun rek ngundi salah sahiji diantara barudak jadi “ucing” (sebutan jang budak anu jadi obyek kaulinan). Carana nyaeta dipilih salah sahiji budak jadi pamimpin pikeun mimpin nembangkeun kawih tadi. Si Pamimpin namprakeun leungeunna terus barudak lianna masing-masing nempelkeun tulunjuk kana talapak leungeun pamimpin tadi. Bari ngawihkeun tembang tilihur kabeh barudak kudu waspada kulantaran si pamimpin bisa ngatur eta kawih teh cepet atawa lamabat. Pas tungtung tembang tadi kabeh barudak kudu cepet-cepet narik tulujuk supaya teu kacapit kuleungeun pamimpin. Budak anu lambat narik tulunjukna terus kacapit ku paminpin, budak eta jadi “ucing”.
Jakarta 16 Juli 2009Inget kaulinan keur budak baheula dilembur.
Label:
lagu ulinan barudak
Langganan:
Postingan (Atom)

