Mentari pagi masih malu keluar dari kelambu malam
Sinarnya hanya sebersit diantara ujung-ujung gedung menjulang
Tak nampak suatu kepastian akan datangnya siang menjelang
Ataupun dekapan akan hangatnya impian yang akan digenggam
Sementara itu.........
Bau asap knalpot bersahutan penuhi sesak udara pagi
Truk, bus, motor, bahkan sedan mengkilap seakan berlomba paduan suara
Tak peduli akan peringatan ataupun bahaya yang mengancam kesehatan
Tersingkir jauh nurani untuk peduli akan lingkungan dan masa depan
Satu persatu.....
Langkah-langkah gesit...genit .... tergesa.......terdera.....diburu sang waktu
Berpacu untuk dapatkan kepastian kaki di ruang lobby
Karena ketakutan akan karir dan prestasi yang selalu menghantui
Dan nilai gaji yang menjadi simbol harga diri
Aku ...........
Lelaki dusun yang terjepit dan terbuang
Coba berjuang dirimba belantara ibu kota
‘Tuk sekedar menyambung arti hidup yang mesti dijalani
Karena tak ada pilihan selain mati atau tetap mengikuti
Kini.....
Semakin jelas cermin yang terbayang didepan
Tersisih.... tak dipandang lagi sebagai sesama anak negeri
Terlempar.....tak diharaukan bagai tawanan dari medan juang
Terkapar.......bak injakan sampah yang terlalu murah
Aku tak tahu harus berkata apa....
Terlalu rendah dan murah harga diri hanya ditukar dengan materi
Ataupun nilai kepercayaan yang semakin tipis bahkan lenyap diantara teman
Aku adalah aku yang semakin diambang kebingungan
Antara mutiara hati dan nilai syahwat dunia yang menggoda
Jakarta, 15 Juli 2003
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Desember 2009
Jumat, 13 November 2009
Dewi Durgha Sang Perupa
Wahai Dewi Durgha sang perupa
Ajari jemari ini melukis di kanvas hati
Baluri kuku-kuku perayu dengan merah darahmu
Racikan tujuh pelangi dengan keringat warnamu
Menjamah wajah yang bersua tak pernah
Singkap kesenyuman perawan yang tertanam di palung terdalam
Wahai Dewi Durgha sang perupa
Pesanggrahan tujuh rupa kembang setaman dalam wajan nekara
Coba hadirkan ‘tuk undang kau datang diperaduan
Dengan mantera-mantera penjelma penglayang sukma
Peradukan do’a jumantara telanjangi jiwa samsara
Mengiringi asap dupa mengepul mengawini keharuman kemenyan
Mengguncang suara gema selaksa isi bhuwana
Wahai Dewi Durgha sang perupa
Buaikan asa dikata mencapai nirwana purnama
Mengkristal dibalik taji brani suatu prasasti
Wira ksatria karsa manunggaling sukma
Sang Putri pujaan di puri Istana Baginda
Nun jauh di kota maha praja
Lewati sagita kencana beribu langkah bhatara khala
Dalam fatamorgana kaca benggala mustika
Wahai Dewi Durgha sang perupa
Ikatkan kami dengan temali api suci abadi
Wujudkan legenda yang tak lekang dimakan zaman
Hingga temurun remah yang menjemput ajal
Keabadian suci yang tak mati sampai tutup lawang sigotaka
Jakarta , 20 Juli 2001
Sebuah permohonan akan kerinduan
Ajari jemari ini melukis di kanvas hati
Baluri kuku-kuku perayu dengan merah darahmu
Racikan tujuh pelangi dengan keringat warnamu
Menjamah wajah yang bersua tak pernah
Singkap kesenyuman perawan yang tertanam di palung terdalam
Wahai Dewi Durgha sang perupa
Pesanggrahan tujuh rupa kembang setaman dalam wajan nekara
Coba hadirkan ‘tuk undang kau datang diperaduan
Dengan mantera-mantera penjelma penglayang sukma
Peradukan do’a jumantara telanjangi jiwa samsara
Mengiringi asap dupa mengepul mengawini keharuman kemenyan
Mengguncang suara gema selaksa isi bhuwana
Wahai Dewi Durgha sang perupa
Buaikan asa dikata mencapai nirwana purnama
Mengkristal dibalik taji brani suatu prasasti
Wira ksatria karsa manunggaling sukma
Sang Putri pujaan di puri Istana Baginda
Nun jauh di kota maha praja
Lewati sagita kencana beribu langkah bhatara khala
Dalam fatamorgana kaca benggala mustika
Wahai Dewi Durgha sang perupa
Ikatkan kami dengan temali api suci abadi
Wujudkan legenda yang tak lekang dimakan zaman
Hingga temurun remah yang menjemput ajal
Keabadian suci yang tak mati sampai tutup lawang sigotaka
Jakarta , 20 Juli 2001
Sebuah permohonan akan kerinduan
Label:
Puisi
Ketidakpastian
Kedua kakiku jauh sudah melangkah
Mengikuti bisikan suci kata hati dan ajakan putih naluri
Coba ungkap misteri kehidupan yang legam terpendam
Bukakan tabir takdir gelap yang selama ini masih senyap
Merambah disetiap jengkal tanah dan relung sudut celah kota
Aku coba lalui arah utara dengan pasti
Aku jalani arah selatan dengan segenggam keyakinan
Aku laju arah timur tanpa ada rasa ragu
Aku rambah arah barat penuh gairah
Tak ada loka yang patut curiga tersisa dan terlupa
Semuanya dilakukan dengan tabah dan pasrah
Tanpa lirih pamrih terbakti dari buta mata kaki
Bulir-bulir keringat merambat ragha membasuh meluruh
Wanginya setia menemai hingga lenyap tersapu bayu
Membentuk muara rasa diujung penat yang menyengat
Kawan pengabdian bagi pengorbanan sang petualang
Kelup mataku separuh tenaga lelah melihat yang ada
Kering mata air mata yang selalu bercengkerama dengan luka
Kantuk mengetuk kala siang hilang atau malam akan menjelang
Putih retina terkabur kelabu dimakan usia perjalanan
Suara serak teriak mengangkat penderitaan yang lama terjerat
Jerit pekik melengking hilang ditelan desing lalu lalang
Perau tak menyisakan sepatah kata tuk pecahkan semua problema
Hingga hanya bisu yang masih membara membahana didada
Dan lidah terbujur kaku membiarkan semua berlalu
Telinga sudah tuli dijejali doktrin yang sudah basi
Mengiang seperti genderang perang yang telah ditabuhkan
Tak ada kesejukan dan ketenangan yang lama didambakan
Atau petuah berkah dan khasiat dari nasihat para pujangga Nusantara
Kini yang didapat hanyalah cemoohan dan makian dari insan
Jakarta, 15 Agustus 2003
Suatu reflesi kehidupan menyongsong Fajar Kemerdekaan
Republik Indonesia ke 58
Dirgahayu Negaraku
Mengikuti bisikan suci kata hati dan ajakan putih naluri
Coba ungkap misteri kehidupan yang legam terpendam
Bukakan tabir takdir gelap yang selama ini masih senyap
Merambah disetiap jengkal tanah dan relung sudut celah kota
Aku coba lalui arah utara dengan pasti
Aku jalani arah selatan dengan segenggam keyakinan
Aku laju arah timur tanpa ada rasa ragu
Aku rambah arah barat penuh gairah
Tak ada loka yang patut curiga tersisa dan terlupa
Semuanya dilakukan dengan tabah dan pasrah
Tanpa lirih pamrih terbakti dari buta mata kaki
Bulir-bulir keringat merambat ragha membasuh meluruh
Wanginya setia menemai hingga lenyap tersapu bayu
Membentuk muara rasa diujung penat yang menyengat
Kawan pengabdian bagi pengorbanan sang petualang
Kelup mataku separuh tenaga lelah melihat yang ada
Kering mata air mata yang selalu bercengkerama dengan luka
Kantuk mengetuk kala siang hilang atau malam akan menjelang
Putih retina terkabur kelabu dimakan usia perjalanan
Suara serak teriak mengangkat penderitaan yang lama terjerat
Jerit pekik melengking hilang ditelan desing lalu lalang
Perau tak menyisakan sepatah kata tuk pecahkan semua problema
Hingga hanya bisu yang masih membara membahana didada
Dan lidah terbujur kaku membiarkan semua berlalu
Telinga sudah tuli dijejali doktrin yang sudah basi
Mengiang seperti genderang perang yang telah ditabuhkan
Tak ada kesejukan dan ketenangan yang lama didambakan
Atau petuah berkah dan khasiat dari nasihat para pujangga Nusantara
Kini yang didapat hanyalah cemoohan dan makian dari insan
Jakarta, 15 Agustus 2003
Suatu reflesi kehidupan menyongsong Fajar Kemerdekaan
Republik Indonesia ke 58
Dirgahayu Negaraku
Label:
Puisi
Senin, 12 Oktober 2009
Berkaca Berbaskom Bocor
Jika bola mata disusupi beludru nafsu
Dan ujung syaraf disumbat ragha syahawat
Sementara lidah sudah patah dililit bola asmara
Sedangkan lubuk akal tertumpah lumpur amarah
Hilang ....bentuk wujud yang bisa dibayang
Kaca kasih sudah pecah tertimpah polah tingkah
Tak ada lagi sisa tameng yang menjadi benteng
Maka...............
Jangan pernah berharap memegang rembulan dengan tangan
Atau bahkan menjadikan matahari sebagai kawan sejati
Itu hanya perbudakan yang membaluti cermin hati
Kini ...dalam kegelapan dan perabaan di persimpangan
Sungguh lentera malamku sudah redup
Diterpa setiap hari oleh bayu ayu yang mencoba mencumbu
Di rayu oleh gemuruh lekuk gelombang kaki lenjang
Dihinggapi kerlingan mata yang merogoh sukma hingga mengganda
Disuguhi silat kata yang menggoda untuk mencoba
Tutur ragha membimbing terbang keperaduan dosa
Tapi......kristal hati tetap bersinar terang abadi
Tak tergores oleh pisau rayuan halusinasi perawan
Kini.... tengoklah wajah juwita di banyu reksa
Kecantikannya sirna....wajah ayu punah sudah
Yang nampak hanya kepala setan yang menjijikan
Tapi.....apa itu mungkin dilakukan
Jika yang ada hanya sebuah baskom bocor
Tak ada segelintir air ataupun segelembung embun
Selapis kotoran telah meredam untuk dipantulkan
Hingga puing kebenaran semakin berserakan
Oh.......andai pekat hitam bolong bisa diteropong
Samar pudar hanya bayangan yang berusaha diciptakan
Tapi itu mustahil dihadirkan dalam muka pertemuan
Tak ada inner yang mengkayuh ruh menuju percikan banyu
Untuk itu............jangan pernah berharap sang perawan menghadap
Jika sang daya tak bisa mencapai laksa
Sedang hitungan picisan terbatas hanya sedasa
Dia adalah sang Dewi yang pernah mati
Kini dia hanya muncul dibalik kerlingan dan senyuman
Itupun sebagai siasat menjerat dan kemudian hilang dibuang
Dalam baskom bocor yang sudah menjadi sepah yang sangat murah
Jakarta, 11 Juli 2001
Dan ujung syaraf disumbat ragha syahawat
Sementara lidah sudah patah dililit bola asmara
Sedangkan lubuk akal tertumpah lumpur amarah
Hilang ....bentuk wujud yang bisa dibayang
Kaca kasih sudah pecah tertimpah polah tingkah
Tak ada lagi sisa tameng yang menjadi benteng
Maka...............
Jangan pernah berharap memegang rembulan dengan tangan
Atau bahkan menjadikan matahari sebagai kawan sejati
Itu hanya perbudakan yang membaluti cermin hati
Kini ...dalam kegelapan dan perabaan di persimpangan
Sungguh lentera malamku sudah redup
Diterpa setiap hari oleh bayu ayu yang mencoba mencumbu
Di rayu oleh gemuruh lekuk gelombang kaki lenjang
Dihinggapi kerlingan mata yang merogoh sukma hingga mengganda
Disuguhi silat kata yang menggoda untuk mencoba
Tutur ragha membimbing terbang keperaduan dosa
Tapi......kristal hati tetap bersinar terang abadi
Tak tergores oleh pisau rayuan halusinasi perawan
Kini.... tengoklah wajah juwita di banyu reksa
Kecantikannya sirna....wajah ayu punah sudah
Yang nampak hanya kepala setan yang menjijikan
Tapi.....apa itu mungkin dilakukan
Jika yang ada hanya sebuah baskom bocor
Tak ada segelintir air ataupun segelembung embun
Selapis kotoran telah meredam untuk dipantulkan
Hingga puing kebenaran semakin berserakan
Oh.......andai pekat hitam bolong bisa diteropong
Samar pudar hanya bayangan yang berusaha diciptakan
Tapi itu mustahil dihadirkan dalam muka pertemuan
Tak ada inner yang mengkayuh ruh menuju percikan banyu
Untuk itu............jangan pernah berharap sang perawan menghadap
Jika sang daya tak bisa mencapai laksa
Sedang hitungan picisan terbatas hanya sedasa
Dia adalah sang Dewi yang pernah mati
Kini dia hanya muncul dibalik kerlingan dan senyuman
Itupun sebagai siasat menjerat dan kemudian hilang dibuang
Dalam baskom bocor yang sudah menjadi sepah yang sangat murah
Jakarta, 11 Juli 2001
Label:
Puisi
Akhir dari Kehampaan
Aku yang berada di dua sisi kehidupan
Terletak diantara himpitan tuntutan dan kenyataan
Ingin rasanya berteriak pekak hingga serak perak
Menebus kekesalan dengan menjerit hingga zenit langit
Tapi suaraku habis dikikis lamunan tak bertuan
Lidahku terikat oleh lilitan kecemasan
Dan mulut tertutup belenggu rasa nafsu
Pikiran semakin terbang melayang menerobos alam bayang
Telinga ini sudah pekak akan jargon-jargon topeng kebohongan
Ingin rasanya kusumbat dengan pasak akhirat
Hingga yang ada hanya gaungan kebenaran dari Sang Kalam
Dan tatapan mata semakin suram menuju kehancuran
Hanya jarak sedasa yang bisa diraba....itupun masih belum nyata
Sementara itu...............
Cita tak bulat lagi seperti setetes air dikaca jendela
Idealisme tak sehitam batu pualam yang diciptakan alam
Oh.....dadaku yang semakin pengap oleh asap kepalsuan
Merasuki paru nafas keadilan yang sering disiramkan
Ingin rasanya membuang jauh duri-duri harga diri
Tapi rasanya tangan ini semakin lemah menggenggam
Ingin rasanya berlari menjauhi kehidupan teka-teki
Tapi....kembali kaki ini kaku, ragu dan rapuh untuk bergerak mengkayuh
Hanya bisa berputar dilingkaran lama dan sama
Untuk kemudian diam dan berselang kematian
Oh.....adakah kesalahan bisa digantikan
Dengan secarik kertas putih dari palung hati suci
Atau setunggkup air mata penyesalan yang mendalam
Dan segenang darah merah yang disimbahkan ke tanah
Atau harus ditukar dengan ragha dan nyawa yang tersisa
Jika itu telah kharma yang harus diderita
Kini..............aku hanya bisa menunggu waktu
Sampai sang penjembut menghampiri diriku
Jakarta 17 Juli 2001
Sebuah kata ungkapan penyesakkan
Akan keadaan yang terbeban
Terletak diantara himpitan tuntutan dan kenyataan
Ingin rasanya berteriak pekak hingga serak perak
Menebus kekesalan dengan menjerit hingga zenit langit
Tapi suaraku habis dikikis lamunan tak bertuan
Lidahku terikat oleh lilitan kecemasan
Dan mulut tertutup belenggu rasa nafsu
Pikiran semakin terbang melayang menerobos alam bayang
Telinga ini sudah pekak akan jargon-jargon topeng kebohongan
Ingin rasanya kusumbat dengan pasak akhirat
Hingga yang ada hanya gaungan kebenaran dari Sang Kalam
Dan tatapan mata semakin suram menuju kehancuran
Hanya jarak sedasa yang bisa diraba....itupun masih belum nyata
Sementara itu...............
Cita tak bulat lagi seperti setetes air dikaca jendela
Idealisme tak sehitam batu pualam yang diciptakan alam
Oh.....dadaku yang semakin pengap oleh asap kepalsuan
Merasuki paru nafas keadilan yang sering disiramkan
Ingin rasanya membuang jauh duri-duri harga diri
Tapi rasanya tangan ini semakin lemah menggenggam
Ingin rasanya berlari menjauhi kehidupan teka-teki
Tapi....kembali kaki ini kaku, ragu dan rapuh untuk bergerak mengkayuh
Hanya bisa berputar dilingkaran lama dan sama
Untuk kemudian diam dan berselang kematian
Oh.....adakah kesalahan bisa digantikan
Dengan secarik kertas putih dari palung hati suci
Atau setunggkup air mata penyesalan yang mendalam
Dan segenang darah merah yang disimbahkan ke tanah
Atau harus ditukar dengan ragha dan nyawa yang tersisa
Jika itu telah kharma yang harus diderita
Kini..............aku hanya bisa menunggu waktu
Sampai sang penjembut menghampiri diriku
Jakarta 17 Juli 2001
Sebuah kata ungkapan penyesakkan
Akan keadaan yang terbeban
Label:
Puisi
Senin, 27 Juli 2009
Balada Merak dan Landak (2)
Wahai sang Merak yang memikat
Jangan biarkan gemuruh darah ini jadi meluruh
Dan tulang-tulang gelora asmara menjadi rapuh tersapuh
Sedangkan olah pikiran sudah tak sejalan dengan perasaan
Bulir-bulir dikulit ari ini semakin menyempitkan aliran nadi
Terasa setiap jengkal emosi melesakan hati
Bara penyesalan menghina dikasat mata
Namun.....setampuk asa masih tergenggam oleh ragha
Wahai sang Merak yang anggun dan menggoda
Biarkan Landak ini berkaca apa adanya
Jangan kau tebar senyum di pelataran altar harapan
Sementara kau tumpahkan sinis kehinaan akan kemenangan
Dimana sang Landak menjadi pecundang dimata Raja Hutan
Setelah seluruh duri kau cabuti sebagai ganti harga diri
Menelanjangi syamsara yang selalu terjaga dan terpuja
Tak ada lagi yang tersisa .....hanya air mata
Oh Sang Pengadil hati yang selalu bersih dan kasih
Bawalah jiwa Landak terbang kejumantara raya
Menemui sang Pengapit sejati yang hakiki
Walaupun tak ada rasa rindu dan cemburu
Namun sebongkah emas ketenangan selalu dikalungkan
Membayang sebuah perjalanan kebahagian
Karena hidup bukan hanya cinta dan nilai rasa
Catatan kecil akan sebuah permainan
Jakarta, 4 July 2001
Jangan biarkan gemuruh darah ini jadi meluruh
Dan tulang-tulang gelora asmara menjadi rapuh tersapuh
Sedangkan olah pikiran sudah tak sejalan dengan perasaan
Bulir-bulir dikulit ari ini semakin menyempitkan aliran nadi
Terasa setiap jengkal emosi melesakan hati
Bara penyesalan menghina dikasat mata
Namun.....setampuk asa masih tergenggam oleh ragha
Wahai sang Merak yang anggun dan menggoda
Biarkan Landak ini berkaca apa adanya
Jangan kau tebar senyum di pelataran altar harapan
Sementara kau tumpahkan sinis kehinaan akan kemenangan
Dimana sang Landak menjadi pecundang dimata Raja Hutan
Setelah seluruh duri kau cabuti sebagai ganti harga diri
Menelanjangi syamsara yang selalu terjaga dan terpuja
Tak ada lagi yang tersisa .....hanya air mata
Oh Sang Pengadil hati yang selalu bersih dan kasih
Bawalah jiwa Landak terbang kejumantara raya
Menemui sang Pengapit sejati yang hakiki
Walaupun tak ada rasa rindu dan cemburu
Namun sebongkah emas ketenangan selalu dikalungkan
Membayang sebuah perjalanan kebahagian
Karena hidup bukan hanya cinta dan nilai rasa
Catatan kecil akan sebuah permainan
Jakarta, 4 July 2001
Label:
Puisi
Jumat, 24 Juli 2009
Jembatan Layang Ahmad Yani
Lorong jembatan layang Ahmad Yani
Denyut rasa manusiawi mati tenggelam dimakan zaman
Gerombolan kuli jalanan berlalu lalang tanpa tujuan dan pekerjaan
Membawa pacul dan pengki yang teronggok sedari pagi
Berharap ada tuan yang memberi pekerjaan serabutan
Sekedar menyambung hidup untuk anak istri yang setia menanti
Memperbaiki nasib yang membelenggu kemiskinan turunan
Entah kapan sang harapan merubah keadaan
Sementara yang lainnya asyik tertidur mendengkur
Setelah seharian melamun tak ada pekerjaan yang dikerjakan
Yang ada hanya main gaplehan tuk usir rasa kejenuhan dan kekesalan
Mengobati rayuan kejahatan yang disodorkan para badut kantoran
Sementara itu.....anak jalanan berlari-lari mengais mimpi
Mengikuti bayangan yang tak mungkin bisa dikalahkan
Canda ceria bak pengusir rasa dahaga kasih sayang dari orang tua
Tak sadar akan hari depan yang dihadapi semakin suram
Dan kejahatan malam selalu mengintai dari belakang
Nyawa murah dan rendah hanya ditukar uang recehan bisa tergadaikan
Hari ini, besok dan yang akan datang adalah sama
Pengamen jalanan bernyanyi harapan sunyi tentang asa nol belaka
Sebagai status seniman yang ditertawakan kalangan artis kawakan
Berbekal gitar atau bahkan tepukan tangan yang berperasaan
Kadang kejahatan menggoda untuk bersama dengan mereka
Karena dermawan membiarkan mereka meradang dijalanan
Pengemis renta tengadah tangan yang lama kesemutan
Memelas rasa iba bagi mereka yang masih punya nyawa dan derma
Walau acap kali sumpah serapah terlontar dari orang yang serakah
Tak memberi nilai setali yang ada caci maki
Dianggap pemalas yang tak mau bekerja keras
Preman pengatur lalu lintas beringas meminta jatah pengaturan
Pendapatannya segembolan karena ditopang kesangaran
Hasilnya entah untuk apa dan untuk siapa
Tak Jelas siapa yang meminta dan jatah yang meminta
Atau hanya sekedar menjalankan karena terdesak akan keserakahan
Renungan perjalanan Pulang
Dari Pulomas ~ BSD
Jakarta May 11, 2006
Denyut rasa manusiawi mati tenggelam dimakan zaman
Gerombolan kuli jalanan berlalu lalang tanpa tujuan dan pekerjaan
Membawa pacul dan pengki yang teronggok sedari pagi
Berharap ada tuan yang memberi pekerjaan serabutan
Sekedar menyambung hidup untuk anak istri yang setia menanti
Memperbaiki nasib yang membelenggu kemiskinan turunan
Entah kapan sang harapan merubah keadaan
Sementara yang lainnya asyik tertidur mendengkur
Setelah seharian melamun tak ada pekerjaan yang dikerjakan
Yang ada hanya main gaplehan tuk usir rasa kejenuhan dan kekesalan
Mengobati rayuan kejahatan yang disodorkan para badut kantoran
Sementara itu.....anak jalanan berlari-lari mengais mimpi
Mengikuti bayangan yang tak mungkin bisa dikalahkan
Canda ceria bak pengusir rasa dahaga kasih sayang dari orang tua
Tak sadar akan hari depan yang dihadapi semakin suram
Dan kejahatan malam selalu mengintai dari belakang
Nyawa murah dan rendah hanya ditukar uang recehan bisa tergadaikan
Hari ini, besok dan yang akan datang adalah sama
Pengamen jalanan bernyanyi harapan sunyi tentang asa nol belaka
Sebagai status seniman yang ditertawakan kalangan artis kawakan
Berbekal gitar atau bahkan tepukan tangan yang berperasaan
Kadang kejahatan menggoda untuk bersama dengan mereka
Karena dermawan membiarkan mereka meradang dijalanan
Pengemis renta tengadah tangan yang lama kesemutan
Memelas rasa iba bagi mereka yang masih punya nyawa dan derma
Walau acap kali sumpah serapah terlontar dari orang yang serakah
Tak memberi nilai setali yang ada caci maki
Dianggap pemalas yang tak mau bekerja keras
Preman pengatur lalu lintas beringas meminta jatah pengaturan
Pendapatannya segembolan karena ditopang kesangaran
Hasilnya entah untuk apa dan untuk siapa
Tak Jelas siapa yang meminta dan jatah yang meminta
Atau hanya sekedar menjalankan karena terdesak akan keserakahan
Renungan perjalanan Pulang
Dari Pulomas ~ BSD
Jakarta May 11, 2006
Label:
Puisi
Rabu, 22 Juli 2009
Balada Merak dan Landak (1)
Si Landak yang tersisih dari lingkaran kasih
Terbuang diantara nilai-nilai rasa sayang
Terabaikan dari cengkeraman kelembutan
Tergilas dan terhempas dari sisi kehangatan
Mencoba mengais keretakan dan kehancuran
Merepih dari kaca pecah ‘tuk meredam amarah
Satu kepincangan yang menjadi beban kala berjalan
Saat ini…..si Landak butuh nilai sebuah sentuhan
Walau sekejap hanya selembar bulu indah Merak dari sayap
Namun itu mampu membangkitkan duri dari tubuh yang rapuh
Menggelora merah darah yang talah lama terkesima
Merajut benang harapan kusut yang telah lama tersaput
Oleh gemulai dan kelincahan akan sebuah keyakinan
Yang menari dari pelupuk mata sedasa hasta
Duhai…sang pemilik sayap yang indah
Sebarkan setetes keringat wangi Merak pada Landak
Berikan permainan kesayupan hitam bola mata
Titipkan simpul senyum di lubuk terdalam
Genggamkan lentik jari yang halus terurus
Rebahkan sebuah getar perasaan pada jiwa yang terlena
Hidupkan api cemburuan yang telah mati kesuri
Agar si Landak bisa yakin akan kepikatan dibalik racun penipuan
Jakarta, 29 Juni 2001
Sebuah catatan kecil dari perjalanan
Anak Desa dalam mengarungi bhuwana
Diambang Samudara Asa
Terbuang diantara nilai-nilai rasa sayang
Terabaikan dari cengkeraman kelembutan
Tergilas dan terhempas dari sisi kehangatan
Mencoba mengais keretakan dan kehancuran
Merepih dari kaca pecah ‘tuk meredam amarah
Satu kepincangan yang menjadi beban kala berjalan
Saat ini…..si Landak butuh nilai sebuah sentuhan
Walau sekejap hanya selembar bulu indah Merak dari sayap
Namun itu mampu membangkitkan duri dari tubuh yang rapuh
Menggelora merah darah yang talah lama terkesima
Merajut benang harapan kusut yang telah lama tersaput
Oleh gemulai dan kelincahan akan sebuah keyakinan
Yang menari dari pelupuk mata sedasa hasta
Duhai…sang pemilik sayap yang indah
Sebarkan setetes keringat wangi Merak pada Landak
Berikan permainan kesayupan hitam bola mata
Titipkan simpul senyum di lubuk terdalam
Genggamkan lentik jari yang halus terurus
Rebahkan sebuah getar perasaan pada jiwa yang terlena
Hidupkan api cemburuan yang telah mati kesuri
Agar si Landak bisa yakin akan kepikatan dibalik racun penipuan
Jakarta, 29 Juni 2001
Sebuah catatan kecil dari perjalanan
Anak Desa dalam mengarungi bhuwana
Diambang Samudara Asa
Label:
Puisi
Selasa, 21 Juli 2009
Jakarta Menangis Lagi
Belum hilang dalam ingatan bayang
Belum pulih perih dihati terobati
Belum sempurna luka menganga dikepala
Belum ada waktu sewindu berlalu
Kini…..
Bom di hotel JW Marriot terdengar lagi
Ketika sang mentari baru menyapa dipagi hari
Sinarnya kuning kemilau memberi arti harmoni
Dan embun pagi masih setia menemani
Orang akan membuka lembaran kerja dalam berkarya
Tapi tiba-tiba .......
JW Marriot membara amarah dan memerah
Kemegahannya seketika bergeletar
Keangkuhannya lumpuh diam terkapar
Keindahannya limbung terkepung asap mengepul
Seketika………
Orang berlari mencari perlindungan yang hakiki
Menjerit menahan rasa sakit yang melangit
Darah merah tersimbah dimana mana menyentuh tanah
Agar selamat dari ancaman malaikat penjemput maut
Serpihan daging tercecer berkeping-keping
Bunyi sirine ambulan tak henti bersahut-sahutan
Mengantar asa nyawa yang sudah pasrah berserah
Oh Jakartaku
Setelah reda dalam beberapa waktu berlalu
Kini Jakarta didera lagi prahara dan bencana
Harga nyawa manusia sangat rendah dan murah
Terbeli dengan harga dhuniawi yang merasuki insani
Nilai rasa dan norma hanya tersaji di ilusi prasasti
Karena sang penghuni tak lagi mengerti dan memahami
Aku sedih dan lirih merintih
Wahai sahabatku
Semoga kejadian ini berhenti dan tak terulang lagi
Jangan pernah ada lagi dendam yang terus membayang
Jangan pernah saling menyalahkan karena keadaan
Mari bersatu dalam dalam kebhinekaan dan rasa cinta
Agar Indonesia Raya Berjaya
Jakarta 17 Juli 2009
Terhenyak mendengar bom meladak lagi di hotel JW MarriotSetelah tahun 2003 terjadi ledakan di tempat yang sama
Belum pulih perih dihati terobati
Belum sempurna luka menganga dikepala
Belum ada waktu sewindu berlalu
Kini…..
Bom di hotel JW Marriot terdengar lagi
Ketika sang mentari baru menyapa dipagi hari
Sinarnya kuning kemilau memberi arti harmoni
Dan embun pagi masih setia menemani
Orang akan membuka lembaran kerja dalam berkarya
Tapi tiba-tiba .......
JW Marriot membara amarah dan memerah
Kemegahannya seketika bergeletar
Keangkuhannya lumpuh diam terkapar
Keindahannya limbung terkepung asap mengepul
Seketika………
Orang berlari mencari perlindungan yang hakiki
Menjerit menahan rasa sakit yang melangit
Darah merah tersimbah dimana mana menyentuh tanah
Agar selamat dari ancaman malaikat penjemput maut
Serpihan daging tercecer berkeping-keping
Bunyi sirine ambulan tak henti bersahut-sahutan
Mengantar asa nyawa yang sudah pasrah berserah
Oh Jakartaku
Setelah reda dalam beberapa waktu berlalu
Kini Jakarta didera lagi prahara dan bencana
Harga nyawa manusia sangat rendah dan murah
Terbeli dengan harga dhuniawi yang merasuki insani
Nilai rasa dan norma hanya tersaji di ilusi prasasti
Karena sang penghuni tak lagi mengerti dan memahami
Aku sedih dan lirih merintih
Wahai sahabatku
Semoga kejadian ini berhenti dan tak terulang lagi
Jangan pernah ada lagi dendam yang terus membayang
Jangan pernah saling menyalahkan karena keadaan
Mari bersatu dalam dalam kebhinekaan dan rasa cinta
Agar Indonesia Raya Berjaya
Jakarta 17 Juli 2009
Terhenyak mendengar bom meladak lagi di hotel JW MarriotSetelah tahun 2003 terjadi ledakan di tempat yang sama
Label:
Puisi
Rabu, 15 Juli 2009
Puisi Berbalas Santun
Ada gobang ada si Pitung
Sekali tebas elo mati
Hai Bang kalau lagi bingung
Nggak usah malas enakan kerja lagi
Gobang si Pitung tajam banget
Sering diasahnye pake batu kali
Hai Bang kalau lagi pikiran mumet
Segera buke itu Alqur’an terus ngaji
Si Pitung kebal kagak mempan ditembak
Kumpani keder bawa centeng banyak
Jangan sembarang Bung asal nyablak
Sholat ame ngaji ane kagak pernah telat
Si pitung make jurus satu jurus dua
Jurus Naganye hingge jurus ular cobra
Gue ini hafal semua doa
Lu pade silahkan ngetes gua
Golok si Pitung rebutan para jawara
Dari Si Mate Satu hingga Si Japri
Hai Bang ane ini hanya bertanya
Kagak ade niatan nyakitin ati
Si Pitung muridnya Haji Somad
Anak perawannye cantik banget
Hai Bung ane terima elu punye itikad
Bikin hidup gue lebih semanget
Selain gobang, si Pitung punye peci item
Ame sarung serasi banget kelihatannye
Hai Bang ane semua pade sungkem
Emang abang pemude tiada duanye
Jakarta 29 Juni 2009
Puisi ini dibuat dalam rangka mengingat HUT Jayakarta
Sekali tebas elo mati
Hai Bang kalau lagi bingung
Nggak usah malas enakan kerja lagi
Gobang si Pitung tajam banget
Sering diasahnye pake batu kali
Hai Bang kalau lagi pikiran mumet
Segera buke itu Alqur’an terus ngaji
Si Pitung kebal kagak mempan ditembak
Kumpani keder bawa centeng banyak
Jangan sembarang Bung asal nyablak
Sholat ame ngaji ane kagak pernah telat
Si pitung make jurus satu jurus dua
Jurus Naganye hingge jurus ular cobra
Gue ini hafal semua doa
Lu pade silahkan ngetes gua
Golok si Pitung rebutan para jawara
Dari Si Mate Satu hingga Si Japri
Hai Bang ane ini hanya bertanya
Kagak ade niatan nyakitin ati
Si Pitung muridnya Haji Somad
Anak perawannye cantik banget
Hai Bung ane terima elu punye itikad
Bikin hidup gue lebih semanget
Selain gobang, si Pitung punye peci item
Ame sarung serasi banget kelihatannye
Hai Bang ane semua pade sungkem
Emang abang pemude tiada duanye
Jakarta 29 Juni 2009
Puisi ini dibuat dalam rangka mengingat HUT Jayakarta
Label:
Puisi
Selasa, 14 Juli 2009
Perempuan Terbuang
Berdiri menanti berjam-jam bahkan mungkin seharian
Bertahan hidup antara dosa dan mimpi yang terus membayang
Antara pengakhiran dan perjuangan menafkahi keturunan
Aku tak tahu apakah mereka untuk menyambung hidup ?
Ataukah berpesta foya untuk menyumbang hidup yang sementara
Garis merah yang semakin kabur sebagai penghibur
Perempuan bergincu yang telah terbuang rasa malu
Kegetiran diantara manis senyuman diciptakan
Kegenitan diatara himpitan hidup dan ratapan duka nestapa
Kerlingan mata diantara kubangan air mata
Setiap mata menatap dan mereka menunggu penuh harap
Ini adalah mangsa yang harus dimanfaatkan
Ataukah hanya mainan sebentar untuk kemudian dilupakan
Tak peduli harga diri yang sudah lama mati
Yang penting tuan sayang memberi uang untuk kepuasan
Setiap dengus napas pelanggan berarti nasi sehari untuk anak mereka
Setiap erangan kenikmatan pelanggan adalah air sepanci untuk keluarga mereka
Setiap cucuran keringat pelanggan adalah kebutuhan pendidikan kemudian
Setiap kelelahan pelanggan adalah kesehatan jangka panjang
Setiap akhir pertunjukan adalah tabungan hari tua
Lorong hitam dosa terus mengumandang ditelinga mereka
Cacian dan makian dari sesama adalah sarapan yang menjadi kebiasaan
Dan kejaran siksa akhirat selalu melekat erat didalam benak
Mereka pasrah semoga mati dalam khusnul khotimah
Hatiku menjerit...kapankah penderitaan mereka berakhir
Tak seperti perempuan panggilan yang mengubar nafsu setan
Harta didapatkan dengan sedikit gesekan dari lelaki bajingan
Mereka tak kekurangan ...yang ada adalah kerakusan
Melahap semua pesta dunia yang mereka impikan
Sekali jalan .... perjalanan hidup sebulan bisa bertahan
Namun mereka masih terus “bekerja” menambah harta
Sesungguhnya harta mereka adalah semu belaka
Karena jiwa dan hati tak bisa dipungkiri dan dikhianati.
Jakarta 29 Mei 2006
Kesedihan akan Perjuangan Hidup Perempuan
Bertahan hidup antara dosa dan mimpi yang terus membayang
Antara pengakhiran dan perjuangan menafkahi keturunan
Aku tak tahu apakah mereka untuk menyambung hidup ?
Ataukah berpesta foya untuk menyumbang hidup yang sementara
Garis merah yang semakin kabur sebagai penghibur
Perempuan bergincu yang telah terbuang rasa malu
Kegetiran diantara manis senyuman diciptakan
Kegenitan diatara himpitan hidup dan ratapan duka nestapa
Kerlingan mata diantara kubangan air mata
Setiap mata menatap dan mereka menunggu penuh harap
Ini adalah mangsa yang harus dimanfaatkan
Ataukah hanya mainan sebentar untuk kemudian dilupakan
Tak peduli harga diri yang sudah lama mati
Yang penting tuan sayang memberi uang untuk kepuasan
Setiap dengus napas pelanggan berarti nasi sehari untuk anak mereka
Setiap erangan kenikmatan pelanggan adalah air sepanci untuk keluarga mereka
Setiap cucuran keringat pelanggan adalah kebutuhan pendidikan kemudian
Setiap kelelahan pelanggan adalah kesehatan jangka panjang
Setiap akhir pertunjukan adalah tabungan hari tua
Lorong hitam dosa terus mengumandang ditelinga mereka
Cacian dan makian dari sesama adalah sarapan yang menjadi kebiasaan
Dan kejaran siksa akhirat selalu melekat erat didalam benak
Mereka pasrah semoga mati dalam khusnul khotimah
Hatiku menjerit...kapankah penderitaan mereka berakhir
Tak seperti perempuan panggilan yang mengubar nafsu setan
Harta didapatkan dengan sedikit gesekan dari lelaki bajingan
Mereka tak kekurangan ...yang ada adalah kerakusan
Melahap semua pesta dunia yang mereka impikan
Sekali jalan .... perjalanan hidup sebulan bisa bertahan
Namun mereka masih terus “bekerja” menambah harta
Sesungguhnya harta mereka adalah semu belaka
Karena jiwa dan hati tak bisa dipungkiri dan dikhianati.
Jakarta 29 Mei 2006
Kesedihan akan Perjuangan Hidup Perempuan
Label:
Puisi
Pemilihan Presiden 2009
Hari ini pemilu presiden dimulai lagi
Ajang pesta rakyat jelata yang konon terbilang langka
Sekali lima tahun mereka dimanja dengan janji belaka
Dibuai dengan semangat semu yang diserukan namun disarukan
Walau tahu namun rahasia umum tetaplah tabu
Dan hasilnya amatlah mencengangkan semua golongan
Dari pemuda pengangguran sampai pegawai kantoran
Dari petani miskin sampai pengusaha kaya raya
Dari nelayan melarat hingga konglomerat yang minggat
Dari pemulung hingga politikus ulung
Namun itulah kenyataan
Antara keyakinan dan kemungkinan yang tak terbayang
Kemenangan yang memang diprediksi dan diteliti
Jumawa akan kesohoran dan kegantengan yang dicitrakan
Tapi apakah bermanfaat bagi rakyat ?
Tapi hasil tetaplah hasil yang muskil dicungkil
Walau seruan dan kecaman dari lawan yang diplesetkan eh dispelekan
Maju terus dengan gagah pongah dan latah
Teruskan walau tanpa hasil kemajuan yang membanggakan
Yang penting menang walau dengan segala cara dan tipu daya
Entah berlaku norma dan budaya ataupun agama
Kini……
Rakyat harus siap lagi dengan segala kesusahan dan kegalauan
Ilusi yang diciptakan kabur dalam bayangan
Setelah pesta demokrasi berakhir sudah
Hanya sampah yang tinggal untuk dibersihkan
Dan getah yang dihasilkan dari dana yang digelontorkan
Aku sendiri golput
Gamang diantara pilihan yang disediakan
Apakah ini mewakili golongan atau segelintir orang
Apakah ini mewakili kawan ataukah murni inisiatif pribadi
Dalam hati hanya bisa berdoa
Semoga Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa
Membuka hati dan rasa dan para pemimpin kita
Jakarta 13 Juli 2009
Mengenang Pilpres yang diselenggarakan 8 Juli 2009Baru bisa dibuat karena pasca pilpres badan tak sehat
Ajang pesta rakyat jelata yang konon terbilang langka
Sekali lima tahun mereka dimanja dengan janji belaka
Dibuai dengan semangat semu yang diserukan namun disarukan
Walau tahu namun rahasia umum tetaplah tabu
Dan hasilnya amatlah mencengangkan semua golongan
Dari pemuda pengangguran sampai pegawai kantoran
Dari petani miskin sampai pengusaha kaya raya
Dari nelayan melarat hingga konglomerat yang minggat
Dari pemulung hingga politikus ulung
Namun itulah kenyataan
Antara keyakinan dan kemungkinan yang tak terbayang
Kemenangan yang memang diprediksi dan diteliti
Jumawa akan kesohoran dan kegantengan yang dicitrakan
Tapi apakah bermanfaat bagi rakyat ?
Tapi hasil tetaplah hasil yang muskil dicungkil
Walau seruan dan kecaman dari lawan yang diplesetkan eh dispelekan
Maju terus dengan gagah pongah dan latah
Teruskan walau tanpa hasil kemajuan yang membanggakan
Yang penting menang walau dengan segala cara dan tipu daya
Entah berlaku norma dan budaya ataupun agama
Kini……
Rakyat harus siap lagi dengan segala kesusahan dan kegalauan
Ilusi yang diciptakan kabur dalam bayangan
Setelah pesta demokrasi berakhir sudah
Hanya sampah yang tinggal untuk dibersihkan
Dan getah yang dihasilkan dari dana yang digelontorkan
Aku sendiri golput
Gamang diantara pilihan yang disediakan
Apakah ini mewakili golongan atau segelintir orang
Apakah ini mewakili kawan ataukah murni inisiatif pribadi
Dalam hati hanya bisa berdoa
Semoga Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa
Membuka hati dan rasa dan para pemimpin kita
Jakarta 13 Juli 2009
Mengenang Pilpres yang diselenggarakan 8 Juli 2009Baru bisa dibuat karena pasca pilpres badan tak sehat
Label:
Puisi
Senin, 13 Juli 2009
Pemilu Legislatif 2009
Orang – orang tiba-tiba berrubah ulah menjadi tokoh olah
Pejabat bejat sementara saja menyerupai diri pahlawan penegak rakyat
Pengusaha kaya membohongi lagi rakyat jelata dengan dana belaka
Politik uang menjadi hal gampang dan serampang
Artis menari dan bernyanyi diatas rakyat yang melarat dan sekarat
Topeng-topeng politik beterbangan mengais suara apatis
Sisanya adalah oportunis yang bermimpi di alam fatamorgana
Aku sedih dan perih melihat fenomena keadaan bangsa
Ngeri melihat negeri ini yang carut marut tanpa raut yang patut
Dihujat, dicaci karena dikelola oleh orang yang salah dan serakah
Korupsi, manipulasi menjadi makanan sehari-hari yang basi
Kemanakah arah negeri ini akan dijelajah
Aku punya pendirian dan pandangan
Lalu dimanakah sang pahlawanku
Menunggu hampir lima tahun pasca pemilu yang berlalu
Tapi perubahan yang diharapkan jauh dari kenyataan
Korupsi makin menjadi-jadi dan menjadi dagelan publik opini
Kekerasan dan pemaksaan masih saja dijalankan
Sementara kebenaran masih dibungkam dan dibelit oleh kepentingan elit
Kini asa kembali ada walau masih dalam tabir mimpi
Akankah topeng-topeng lama masih ada dan terus berjaya
Ataukah tunas suci akan tumbuh mengganti yang mati hati
Dua sisi yang selalu berseberangan bak syurga dan neraka
Aku kepalkan lengan menunjuk angkasa raya
Keadilan Tuhan pasti datang dan tak bisa dihadang
Walau pengadilan thogut dunia begitu penuh rekayasa dan pura-pura
Mereka merasa lolos tapi tidak bisa lulus dengan mulus
Karma akan seimbang dengan perbuatan
Jakarta, 8 April 2009
Sehari sebelum Pemilu Legislatif 9 April ‘09Renungan akan nasib rakyat yang terus terjerat
Pejabat bejat sementara saja menyerupai diri pahlawan penegak rakyat
Pengusaha kaya membohongi lagi rakyat jelata dengan dana belaka
Politik uang menjadi hal gampang dan serampang
Artis menari dan bernyanyi diatas rakyat yang melarat dan sekarat
Topeng-topeng politik beterbangan mengais suara apatis
Sisanya adalah oportunis yang bermimpi di alam fatamorgana
Aku sedih dan perih melihat fenomena keadaan bangsa
Ngeri melihat negeri ini yang carut marut tanpa raut yang patut
Dihujat, dicaci karena dikelola oleh orang yang salah dan serakah
Korupsi, manipulasi menjadi makanan sehari-hari yang basi
Kemanakah arah negeri ini akan dijelajah
Aku punya pendirian dan pandangan
Lalu dimanakah sang pahlawanku
Menunggu hampir lima tahun pasca pemilu yang berlalu
Tapi perubahan yang diharapkan jauh dari kenyataan
Korupsi makin menjadi-jadi dan menjadi dagelan publik opini
Kekerasan dan pemaksaan masih saja dijalankan
Sementara kebenaran masih dibungkam dan dibelit oleh kepentingan elit
Kini asa kembali ada walau masih dalam tabir mimpi
Akankah topeng-topeng lama masih ada dan terus berjaya
Ataukah tunas suci akan tumbuh mengganti yang mati hati
Dua sisi yang selalu berseberangan bak syurga dan neraka
Aku kepalkan lengan menunjuk angkasa raya
Keadilan Tuhan pasti datang dan tak bisa dihadang
Walau pengadilan thogut dunia begitu penuh rekayasa dan pura-pura
Mereka merasa lolos tapi tidak bisa lulus dengan mulus
Karma akan seimbang dengan perbuatan
Jakarta, 8 April 2009
Sehari sebelum Pemilu Legislatif 9 April ‘09Renungan akan nasib rakyat yang terus terjerat
Label:
Puisi
Kamis, 25 Juni 2009
Dukun Kahot Mahiwal
Weleh…. Weleh…. Weleh
Ku nanahaonan silaing kabeh
Make ngaganggu aing nu keur kerek sare
Euwueh deui gawe salian ti rame
Make mere kembang jeung kemenyan
Hayang ku aing silaing ditalipang
Mbah …mbah...mbah
Kawula seba kapisinuhun karuhun
Sembah kapiagung kapisuhun diembun-embun
Munjuk kapihayang mojang priangan
Kabentar asmara kajamparing pinasih
Wengi ka impi siang ngalangkang
Weleh weleh weleh
Silaing ngarasa geus eleh
Serah bongkokan teu boga lelendeh
Ku awewe nu teu weleh
Weleh weleh weleh
Mbah….mbah….mbah
Kawula ngalokoni ing mangpirang rupa
Mimiten tatakrama tur niti tutur basa
Cara ning pakayaan parat ning maparin kasaban
Tapi kapihasil bawaanna nihil
Weleh weleh weleh
Ha haa haaa haaaaaa
Beak dengkak duit beak
Harapan apes harta ambles
Silaing hayang awewena miang
Geus ayeuna mah silaing balik nyingkah siah
Ulah kalah ngajedog kawas entog arek ngendog
Tihareupeun beunget aing nu geus pusing
Matak nepi kieu oge aing tibaheula teu boga wanoja
Teu payu, euweuh hiji – hiji acan awewe nu daek ka dewek
Matakna aing begang tinggal daging eujeung tulang
Haaaa haaaaaa haaaaa
Jakarta 25 Juni ‘09
Puisi lucu dukun kahot yang tak laku-laku
Ku nanahaonan silaing kabeh
Make ngaganggu aing nu keur kerek sare
Euwueh deui gawe salian ti rame
Make mere kembang jeung kemenyan
Hayang ku aing silaing ditalipang
Mbah …mbah...mbah
Kawula seba kapisinuhun karuhun
Sembah kapiagung kapisuhun diembun-embun
Munjuk kapihayang mojang priangan
Kabentar asmara kajamparing pinasih
Wengi ka impi siang ngalangkang
Weleh weleh weleh
Silaing ngarasa geus eleh
Serah bongkokan teu boga lelendeh
Ku awewe nu teu weleh
Weleh weleh weleh
Mbah….mbah….mbah
Kawula ngalokoni ing mangpirang rupa
Mimiten tatakrama tur niti tutur basa
Cara ning pakayaan parat ning maparin kasaban
Tapi kapihasil bawaanna nihil
Weleh weleh weleh
Ha haa haaa haaaaaa
Beak dengkak duit beak
Harapan apes harta ambles
Silaing hayang awewena miang
Geus ayeuna mah silaing balik nyingkah siah
Ulah kalah ngajedog kawas entog arek ngendog
Tihareupeun beunget aing nu geus pusing
Matak nepi kieu oge aing tibaheula teu boga wanoja
Teu payu, euweuh hiji – hiji acan awewe nu daek ka dewek
Matakna aing begang tinggal daging eujeung tulang
Haaaa haaaaaa haaaaa
Jakarta 25 Juni ‘09
Puisi lucu dukun kahot yang tak laku-laku
Label:
Puisi
Rabu, 24 Juni 2009
Tsunami Pangandaran
Belum sembuh sejuta luka yang masih menganga
Belum kering merah darah tumpah membasuhi tanah
Belum hilang kesedihan dan kepedihan dalam bayang
Belum tuntas penyelesaian duka gempa kota Yogya
Kini…..
Gulungan ombak besar menghampiri nelayan Pangandaran
Sapaan yang berbeda dari hari-hari seperti biasa
Tak ada kuasa yang dapat menunda dari sesaat bencana tiba
Tak ada ruang tuk sembunyikan jiwa dalam raga
Hanya kaki berlari menjauh dari malaikat maut yang siap menjemput
Pagi hari….aku masih mendengar kicau burung camar diatas deru lautan
Bocah – bocah telanjang dada berlari lincah diatas hamparan putih pasir
Sinar perak kilau memancar dari ombak yang merapat
Angin sepoi membawa mimpi syurga dalam kesejukan pikiran
Tak ada tanda-tanda bahaya mengintai dari kejauhan
Waktu terus bergulir dan bergulir
Saat yang ditentukan Sang Alam menunjukkan keperkasaan
Harta…kedudukan …pangkat dan jabatan yang selalu diagungkan
Tak berarti apa-apa dengan buih letupan dari lautan.
Rumah....hotel...penginapan....wisma......dan perkantoran
Menyerah disapu badai tsunami yang menerjang
Perahu-perahu nelayan pecah menjadi beberapa bagian terbelah
Seketika ...jerit ketakutan mengumandang ke angkasa
Raungan kesakitan menggema di jumantara
Aku hanya terdiam …terpaku dan membisu
Tak bisa berbuat banyak untuk membantu wahai sahabat
Aku disini menatap deritamu dari layar TV
Menghitung kantong mayat yang makin bertambah dalam jumlah
Dan menyelami perasaan duka dan luka yang ada
Jakarta 18 July 2006
Mengenang Tragedi Tsunami Pangandaran
Tanggal 17 July 2006
Belum kering merah darah tumpah membasuhi tanah
Belum hilang kesedihan dan kepedihan dalam bayang
Belum tuntas penyelesaian duka gempa kota Yogya
Kini…..
Gulungan ombak besar menghampiri nelayan Pangandaran
Sapaan yang berbeda dari hari-hari seperti biasa
Tak ada kuasa yang dapat menunda dari sesaat bencana tiba
Tak ada ruang tuk sembunyikan jiwa dalam raga
Hanya kaki berlari menjauh dari malaikat maut yang siap menjemput
Pagi hari….aku masih mendengar kicau burung camar diatas deru lautan
Bocah – bocah telanjang dada berlari lincah diatas hamparan putih pasir
Sinar perak kilau memancar dari ombak yang merapat
Angin sepoi membawa mimpi syurga dalam kesejukan pikiran
Tak ada tanda-tanda bahaya mengintai dari kejauhan
Waktu terus bergulir dan bergulir
Saat yang ditentukan Sang Alam menunjukkan keperkasaan
Harta…kedudukan …pangkat dan jabatan yang selalu diagungkan
Tak berarti apa-apa dengan buih letupan dari lautan.
Rumah....hotel...penginapan....wisma......dan perkantoran
Menyerah disapu badai tsunami yang menerjang
Perahu-perahu nelayan pecah menjadi beberapa bagian terbelah
Seketika ...jerit ketakutan mengumandang ke angkasa
Raungan kesakitan menggema di jumantara
Aku hanya terdiam …terpaku dan membisu
Tak bisa berbuat banyak untuk membantu wahai sahabat
Aku disini menatap deritamu dari layar TV
Menghitung kantong mayat yang makin bertambah dalam jumlah
Dan menyelami perasaan duka dan luka yang ada
Jakarta 18 July 2006
Mengenang Tragedi Tsunami Pangandaran
Tanggal 17 July 2006
Label:
Puisi
Selasa, 16 Juni 2009
2002 2002
Hari ini ….. sekelumit cerita hidup akan terbentuk
Lembaran kisah tentang pengembaraan kasih tercatat sudah
Sedangkan titian akan perjalanan kedepan telah tersusun beriringan
Dan kembali sejarah insan di bhuwana akan berlanjut dan berulang
2002-2002 adalah sebuah bukti kesetiaan janji yang sudah terpatri
Mengeras....mendalam .....mengkristal dipalung sanubari terdalam
Membahana......menggema....menggelatar di setiap denyut jantung perasaan
Mendesir....membisik......mengalun merdu bersama aliran lembut darah gita asmara
2002-2002 suatu ungkapan yang telah lama dirajut dan disulam
Terekat dalam benang-benang emas rasa cinta dan kasih sayang
Terukir dalam corak lurik saling pengertian dua insan yang selalu kasmaran
Terpadu indah akan warna kesetiaan yang senantiasa dijaga sepanjang masa
Hari ini 2002-2002 dua insan tengah bertatapan
Mengusung sebuah surat sakti dan dihadiri para petuah sejarah
Untuk disimpan..... dirawat dan digenggam erat sampai akhir hayat
Tak boleh lekang....hilang..........lenyap dimakan zaman
............................
.......................................................................
................................................................................................
....................................................
Catatan kecil menjelang tanggal pernikahan
...............Namun............tulisan ini tak dapat dilanjutkan karena ada halangan
Sang Bapa Pulang ke Rahmatullah sehingga tanggal pernikahan diundurkan
Jakarta,...........deraian air mata
Sehari sebelum mendapat khabar tentang berita duka
Jakarta 6 September 2001
Lembaran kisah tentang pengembaraan kasih tercatat sudah
Sedangkan titian akan perjalanan kedepan telah tersusun beriringan
Dan kembali sejarah insan di bhuwana akan berlanjut dan berulang
2002-2002 adalah sebuah bukti kesetiaan janji yang sudah terpatri
Mengeras....mendalam .....mengkristal dipalung sanubari terdalam
Membahana......menggema....menggelatar di setiap denyut jantung perasaan
Mendesir....membisik......mengalun merdu bersama aliran lembut darah gita asmara
2002-2002 suatu ungkapan yang telah lama dirajut dan disulam
Terekat dalam benang-benang emas rasa cinta dan kasih sayang
Terukir dalam corak lurik saling pengertian dua insan yang selalu kasmaran
Terpadu indah akan warna kesetiaan yang senantiasa dijaga sepanjang masa
Hari ini 2002-2002 dua insan tengah bertatapan
Mengusung sebuah surat sakti dan dihadiri para petuah sejarah
Untuk disimpan..... dirawat dan digenggam erat sampai akhir hayat
Tak boleh lekang....hilang..........lenyap dimakan zaman
............................
.......................................................................
................................................................................................
....................................................
Catatan kecil menjelang tanggal pernikahan
...............Namun............tulisan ini tak dapat dilanjutkan karena ada halangan
Sang Bapa Pulang ke Rahmatullah sehingga tanggal pernikahan diundurkan
Jakarta,...........deraian air mata
Sehari sebelum mendapat khabar tentang berita duka
Jakarta 6 September 2001
Label:
Puisi
Jumat, 12 Juni 2009
Ramadhan 2006
Bulan yang selalu kurindu sepanjang waktu
Bulan yang kudambakan sepanjang zaman
Kedatangannya di nantikan dan diharapkan
Kepergiannya ditangisi dan disesali
Bulan kemenangan atas semua kegelapan
Bulan kejayaan atas kebanaran yang pasti abadi
Dan ke Agungan atas segala kekuasaan
Didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan
Malamnya adalah sawah ladang ibadah
Paginya adalah waktu turunnya berkah
Siangnya adalah sungai pembersih salah
Sorenya adalah kebahagiaan penuh sudah
Segala aktivitas dinilai ibadah
Tiada yang sia-sia apalagi tidak berguna
Aku bersimpuh
Menguras semua dosa yang 11 bulan lewat sudah
Bersimbah bersama kucuran airmata yang tertumpah
Berserah dengan suara lemah diatas sejadah
Alunan ayat - Mu bergema dimana-mana
Fakir miskin menerima derma dari sesama
Yatim piatu kini memiliki ibu suri kembali
Walau hanya diterima secara raghawi dhuniawi
Jakarta 5 Oktober 2006 (1427H)
Bulan yang kudambakan sepanjang zaman
Kedatangannya di nantikan dan diharapkan
Kepergiannya ditangisi dan disesali
Bulan kemenangan atas semua kegelapan
Bulan kejayaan atas kebanaran yang pasti abadi
Dan ke Agungan atas segala kekuasaan
Didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan
Malamnya adalah sawah ladang ibadah
Paginya adalah waktu turunnya berkah
Siangnya adalah sungai pembersih salah
Sorenya adalah kebahagiaan penuh sudah
Segala aktivitas dinilai ibadah
Tiada yang sia-sia apalagi tidak berguna
Aku bersimpuh
Menguras semua dosa yang 11 bulan lewat sudah
Bersimbah bersama kucuran airmata yang tertumpah
Berserah dengan suara lemah diatas sejadah
Alunan ayat - Mu bergema dimana-mana
Fakir miskin menerima derma dari sesama
Yatim piatu kini memiliki ibu suri kembali
Walau hanya diterima secara raghawi dhuniawi
Jakarta 5 Oktober 2006 (1427H)
Label:
Puisi
Selasa, 09 Juni 2009
Beban Hirup
Beaya kasehatan mahal teu kahontal ku akal
SPP sakola teu murah jeung teu lumrah
Ongkos kandaraan teu ka berik ku jalma leutik
Gaji ngan ukur cukup meuli teri jeung tarasi
Beban hirup geus teu sanggup
Papada jalma teu aya rasa kulawarga atawa baraya
Uang aing nu penting mah uwing manjing
Bodo batur pahibut kokoro mulud
Kaluhur ngajilat pikeun bisa naek pangkat
Kasahandapeun nincak najan pating koceak
Parawan geus teu boga kaera ngajual raga
Barudak geus teu aya boga tatakrama
Indung Bapa tara ngajarkeun tatali gama
Naha saha anu salah
Cenah nagara iue teh gemah ripah
Subur makmur tentrem ayem
Taneuhna berkah pikeun nyawah
Laukna gampang teu hariwang
Buahna tinggal ngala teu kudu menta
Tapi prakna......
Sapoe bisa dahar oge geus hade
Ulah aya kahayang nu nyaliwang
Komo boga banda sagala aya
Hirup balangsak jeung sangsara kabina-bina
Hibospaho
Hi-rup bo-sen pa-eh ho-ream
Jakarta 9 Juni 2009
Memahami beban hidup yang makin sulit akibat krisis global
SPP sakola teu murah jeung teu lumrah
Ongkos kandaraan teu ka berik ku jalma leutik
Gaji ngan ukur cukup meuli teri jeung tarasi
Beban hirup geus teu sanggup
Papada jalma teu aya rasa kulawarga atawa baraya
Uang aing nu penting mah uwing manjing
Bodo batur pahibut kokoro mulud
Kaluhur ngajilat pikeun bisa naek pangkat
Kasahandapeun nincak najan pating koceak
Parawan geus teu boga kaera ngajual raga
Barudak geus teu aya boga tatakrama
Indung Bapa tara ngajarkeun tatali gama
Naha saha anu salah
Cenah nagara iue teh gemah ripah
Subur makmur tentrem ayem
Taneuhna berkah pikeun nyawah
Laukna gampang teu hariwang
Buahna tinggal ngala teu kudu menta
Tapi prakna......
Sapoe bisa dahar oge geus hade
Ulah aya kahayang nu nyaliwang
Komo boga banda sagala aya
Hirup balangsak jeung sangsara kabina-bina
Hibospaho
Hi-rup bo-sen pa-eh ho-ream
Jakarta 9 Juni 2009
Memahami beban hidup yang makin sulit akibat krisis global
Label:
Puisi
Jumat, 05 Juni 2009
Tuhan
Tuhan......
Kenapa Kau timpakan rasa penyesalan yang penuh
Andaikan dunia luluh tentu aku tiada melepuh
Tuhan......
Kenapa Kau tumpahkan rasa kesalahan yang membatu
Andaikan dunia berseteru tentu aku tidak luka membiru
Tuhan......
Kenapa Kau tuangkan rasa penyiksaan yang berat
Andaikan dunia kiamat tentu aku tidak sekarat
Tuhan......
Kenapa Kau jatuhkan rasa kehinaan yang mengekang
Andaikan dunia tenang tentu akau tidak berteriak kencang
Tuhan......
Kenapa Kau kucurkan rasa lemah yang merekah
Andaikan dunia ramah tentu aku tidak pasrah
Tuhan......
Kenapa Kau turunkan rasa putus asa yang menganga
Andaikan dunia bertapa tentu aku bisa bersabda
Tuhan......
Kenapa Kau wariskan rasa kekalahan yang menggagas
Andaikan dunia waras tentu aku tidak tergilas
Tuhan......
Kenapa Kau berikan rasa penderitaan yang mendalam
Andaikan dunia diam tentu aku tidak tenggelam
Tuhan......
Kenapa Kau titipkan rasa sakit yang melangit
Andaikan dunia berisik tentu aku akan bangkit
Tuhan......
Kenapa Kau tiupkan rasa kekesalan yang penuh
Andaikan dunia runtuh tentu aku tidak bertaruh
Jakarta, 7 September 2001
Sebuah penyesalan akan keadaan
Kenapa Kau timpakan rasa penyesalan yang penuh
Andaikan dunia luluh tentu aku tiada melepuh
Tuhan......
Kenapa Kau tumpahkan rasa kesalahan yang membatu
Andaikan dunia berseteru tentu aku tidak luka membiru
Tuhan......
Kenapa Kau tuangkan rasa penyiksaan yang berat
Andaikan dunia kiamat tentu aku tidak sekarat
Tuhan......
Kenapa Kau jatuhkan rasa kehinaan yang mengekang
Andaikan dunia tenang tentu akau tidak berteriak kencang
Tuhan......
Kenapa Kau kucurkan rasa lemah yang merekah
Andaikan dunia ramah tentu aku tidak pasrah
Tuhan......
Kenapa Kau turunkan rasa putus asa yang menganga
Andaikan dunia bertapa tentu aku bisa bersabda
Tuhan......
Kenapa Kau wariskan rasa kekalahan yang menggagas
Andaikan dunia waras tentu aku tidak tergilas
Tuhan......
Kenapa Kau berikan rasa penderitaan yang mendalam
Andaikan dunia diam tentu aku tidak tenggelam
Tuhan......
Kenapa Kau titipkan rasa sakit yang melangit
Andaikan dunia berisik tentu aku akan bangkit
Tuhan......
Kenapa Kau tiupkan rasa kekesalan yang penuh
Andaikan dunia runtuh tentu aku tidak bertaruh
Jakarta, 7 September 2001
Sebuah penyesalan akan keadaan
Label:
Puisi
Senin, 01 Juni 2009
Yogyakarta Menangis
Belum hilang dalam bayang dan ingatan
Jerit tangis, air mata darah tumpah dinegeri serambi mekah
Gelombang air laut mengamuk, menerjang setiap yang menghadang
Tak terhitung lagi jumlah korban berjatuhan bak anai berserakan
Kini … disisi lain negeriku yang tercinta
Yogya menangis diguncang prahara gempa
Ketika pagi buta mata masih dihiasi mimpi malam yang indah
Bencana datang tiba-tiba tanpa ada aba-aba
Bumi bergocang, pohon tumbang, rumah runtuh rata dengan tanah
Sedetik kemudian ribuan mayat bergelimpangan
Disudut jalan, dipelataran, diperempatan, terlihat orang berlarian
Hanya ada satu tujuan menyelamatkan diri dan badan
Berteriak, menangis histeris meratapi nasib diri apa yang terjadi
Anak, ibu, bapak, nenek dan kakek terpisah oleh situasi dan kondisi
Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan diselamatkan
Rumah sakit seketika penuh tumpah ruah dengan lautan manusia
Erangan kesakitan, tangis hisiteris berpadu dengan asa nyawa
Dokter, perawat dan paramedis berjibaku memberikan pertolongan
Antara hidup-mati, asa dan pasrah melekat erat disetiap jiwa
Apatah dosa kami sehingga ditimpa sedahsyat ini
Angka mayat terus merambat seiring jeritan yang menyayat
Darah merah tumpah menyiram tanah
Air mata menggenang membentuk aliran sungai kesedihan
Tulang-tualng putih menganga diantara daging yang terluka
Sementara di ujung utara Merapi menanti untuk unjuk diri
Guguran lava siap melahap apa saja yang bernyawa
Amuk lahar dan debu simbol keperkasaan tak tertahan
Bagi penghuni dilereng yang setia dan berjaga
Oh....Yogyaku semakin dihimpit oleh nestapa
Diselatan prahara gempa datang tanpa diundang
Dan diutara merapi perkasa siap memuntahkan lapar dahaga
Jakarta 29 Mei 2006
Mengenang Tragedi Bencana Yogya 26 Mei 2006
Jerit tangis, air mata darah tumpah dinegeri serambi mekah
Gelombang air laut mengamuk, menerjang setiap yang menghadang
Tak terhitung lagi jumlah korban berjatuhan bak anai berserakan
Kini … disisi lain negeriku yang tercinta
Yogya menangis diguncang prahara gempa
Ketika pagi buta mata masih dihiasi mimpi malam yang indah
Bencana datang tiba-tiba tanpa ada aba-aba
Bumi bergocang, pohon tumbang, rumah runtuh rata dengan tanah
Sedetik kemudian ribuan mayat bergelimpangan
Disudut jalan, dipelataran, diperempatan, terlihat orang berlarian
Hanya ada satu tujuan menyelamatkan diri dan badan
Berteriak, menangis histeris meratapi nasib diri apa yang terjadi
Anak, ibu, bapak, nenek dan kakek terpisah oleh situasi dan kondisi
Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan diselamatkan
Rumah sakit seketika penuh tumpah ruah dengan lautan manusia
Erangan kesakitan, tangis hisiteris berpadu dengan asa nyawa
Dokter, perawat dan paramedis berjibaku memberikan pertolongan
Antara hidup-mati, asa dan pasrah melekat erat disetiap jiwa
Apatah dosa kami sehingga ditimpa sedahsyat ini
Angka mayat terus merambat seiring jeritan yang menyayat
Darah merah tumpah menyiram tanah
Air mata menggenang membentuk aliran sungai kesedihan
Tulang-tualng putih menganga diantara daging yang terluka
Sementara di ujung utara Merapi menanti untuk unjuk diri
Guguran lava siap melahap apa saja yang bernyawa
Amuk lahar dan debu simbol keperkasaan tak tertahan
Bagi penghuni dilereng yang setia dan berjaga
Oh....Yogyaku semakin dihimpit oleh nestapa
Diselatan prahara gempa datang tanpa diundang
Dan diutara merapi perkasa siap memuntahkan lapar dahaga
Jakarta 29 Mei 2006
Mengenang Tragedi Bencana Yogya 26 Mei 2006
Label:
Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)
